info kesehatan/unik/serba serbi

Monday, 15 October 2012

Banyak Kader Parpol Ngaku Siap Lompat ke NasDem

Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
Ilustrasi
JAKARTA - Sebagai partai baru, Partai Nasional Demokrat (NasDem) seolah memiliki daya tarik yang menyilaukan. Terbukti banyak kader partai politik (Parpol) lain berbondong-bondong siap pindah ke partai besutan Surya Paloh tersebut.

Sekretaris Majelis Nasional Partai NasDem, Jeffri Geovanni secara gamblang menyebut puluhan politisi dari lintas parpol yang kini duduk di parlemen akan masuk ke partainya dan pasti membuat kaget masyarakat Indonesia.

"Itu yang saya bilang tadi, bisa mengejutkan banyak pihak, termasuk Bang Yorrys Raweyai (Ketua DPP Golkar). Tapi tidak mungkin saya bocorkan hari ini. Karena mereka ada di Parlemen hari ini," jelas Jeffry kepada wartawan di Hotel Hyatt, Jakarta, Minggu (14/10/2012).

Bahkan, saat ditanya partai apa saja yang sudah siap beralih ke NasDem. Mantan Politisi Golkar itu masih merahasiakannya. "Banyak sekali, pokoknya sangat mengejutkan dan di situ orang akan lihat partai ini serius memenangkan Pemilu," tegasnya.

Jeffry mengaku, sebenarnya Ketua Umum NasDem Rio Capella pernah keceplosan dengan menyebut ada 30 orang politisi partai lain mau masuk NasDem. "Menurut saya dia terlalu pelit untuk ngomong sejujurnya. Jauh lebih besar dari itu," sambungnya.

Namun, Jeffry menyatakan, partainya sudah melakukan upaya filterisasi untuk menjaring kader pilihan yang tentu tidak bermasalah, seperti terjerat kasus hukum atau korupsi.

"(Filterisasi) tentu, kita tidak mau mengulangi tetangga kita. Menang pemilu tapi punya masalah besar. Kita lebih selektif saja. Sekarang ini, mereka sudah melakukan komunikasi dengan kita. Tinggal secara resmi diumumkan saja," paparnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi apakah opsi NasDem untuk membiayai kadernya untuk pemilihan legislatif dijadikan alasan banyak politisi parpol lain memutuskan ke NasDem. Jeffry menjawab, upaya itu untuk membantu biaya Pileg yang besar sekali.

"Diantaranya barangkali, karena itu mereka mungkin rasional saja. Daripada berhutang, padahal mereka orang baik, tapi tak punya financial untuk Pileg, kan gitu. Makanya kita biayai mereka dengan asumsi mereka loyal kepada partai," simpulnya.

Sumber