info kesehatan/unik/serba serbi

Sabtu, 22 November 2014

Singapura Ancam Hukum Cambuk Warga Jerman

Singapura Ancam Hukum Cambuk Warga Jerman
SINGAPURA - Dua warga negara Jerman ditangkap di Malaysia dan diusir ke Singapura, tempat mereka diduga membuat coretan di gerbong kereta dengan cat semprot. Mereka diancam hukuman penjara dan cambuk oleh Pemerintah Singapura.
Seperti dilansir Reuters, Jumat (21/11/2014), pihak kepolisian mengatakan kedua warga Jerman tersebut berjenis kelamin lelaki berusia 21 tahun. Mereka ditangkap pada Kamis malam. Mereka meninggalkan Kuala Lumpur dan singgah di Singapura untuk kemudian menuju Australia.
Keduanya diduga menyemprotkan grafiti pada sebuah kereta di Singapura tak lama sebelum meninggalkan negara itu pada 8 November 2014. Polisi mengatakan mereka akan didakwa pada Sabtu (22/11/2014).
Foto di media saat itu menunjukkan sebuah gerbong kereta dengan coretan berbagai bentuk huruf dan desain namun tidak jelas apa yang dituliskan.
Singapura yang terkenal dengan kebersihannya, mengambil langkah keras terhadap kesalahan kecil sekalipun seperti vandalisme dan mengenakan denda terhadap tindakan membuang sampah sembarangan.
Penahanan itu terjadi empat tahun setelah seorang warga negara Swiss, Oliver Fricker dipenjara tujuh bulan dan tiga cambukan setelah terbukti bersalah menerobos pagar depo kereta dan membuat coretan dengan cat semprot pada gerbong-gerbong kereta.
Hukum vandalisme Singapura menjadi berita global pada 1994 saat seorang remaja Amerika, Michael Fay dihukum cambuk karena merusak mobil dan fasilitas public. Meskipun ada permohonan grasi dari pemerintah Amerika Serikat, termasuk presiden AS saat itu, Bill Clinton.
(hmr)

Sumber ;

Kanker Rahim, Kanker Penyebab Utama Kematian di Afrika

Para pakar medis mengatakan kanker rahim masih menjadi penyebab utama kematian terkait kanker di Sub-Sahara Afrika. Sebagian besar meninggal karena mengabaikannya.
B7905F29-7B94-4318-B483-2A9AC17BEBA8_w640_r1_s_cx0_cy10_cw0
Sebagian besar perempuan Sub Sahara yang meninggal akibat kanker rahim karena mengabaikannya (foto: ilustrasi).

Kurang dari satu persen perempuan diperiksa untuk mengetahui penyakit itu. Kampanye vaksin gratis bagi anak perempuan berusia 9 sampai 13 tahun sedang berlangsung.
Para dokter medis dari Chad, Gabon, Republik Kongo, Guinea, Kamerun dan Republik Afrika Tengah mengatakan dampak penyakit kronis seperti kanker terus meningkat di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah. Dr. Ndikum Donald, pakar kanker yang bekerja di ibukota Chad, N'Djamena, mengatakan deteksi dini penting untuk meningkatkan kemungkinan pemulihan.
“Negara-negara berpendapatan rendah paling terkena dampaknya karena di negara-negara maju ada program yang terorganisir, program rutin dimana mereka memeriksa perempuan setiap tiga sampai tahun,” kata Donald.
Profesor Anderson Doh dari komite kanker Kamerun mengatakan di negaranya saja, mereka telah mendeteksi 14.000 kasus kanker setiap tahun dan 4,000 diantaranya adalah kanker rahim. Dia mengatakan sebagian besar dilaporkan terjadi pada perempuan paruh baya dan pasien menderita lebih lama dan meninggal lebih cepat dari mereka di negara-negara berpendapatan tinggi.

“Angkanya meningkat sebagian karena jumlah penduduknya bertambah. Tetapi perubahan gaya hidup juga mempengaruhi. Merokok misalnya. Sebagian pengidap kanker rahim, kanker payudara dan kanker prostat yang meminta bantuan, usianya masih sangat muda,” papar Anderson.
Profesor Doh mengatakan pemerintah di negara-negara Sub-Sahara harus bertindak cepat. Dia mengatakan semua perempuan, terlepas dari status ekonomi atau lokasi geografis, seharusnya memiliki akses ke pemeriksaan kanker rahim yang akurat dan terjangkau. Dia menganjurkan orang-orang untuk menjalani hidup yang lebih sehat untuk mencegah penyakit itu.

Kanker rahim adalah penyebab utama kematian terkait kanker pada perempuan di negara-negara yang bulan ini mengadakan pemeriksaan bagi perempuan berusia 9 sampai 13 tahun. Profesor Anderson Doh mengatakan kampanye itu gratis.
“Vaksinnya gratis. Ada dua jenis vaksin di pasaran: Gardasil dan Cervarix. Kami memilih Gardasil yang diproduksi di AS, karena itu akan mencegah kedua kanker yang kita bicarakan ini di wilayah dimana HIV/AIDS marak,” tambahnya.

Para pakar kesehatan mengatakan kanker rahim dapat dicegah, tetapi setiap tahun sekitar 80 persen kematian terkait kanker terjadi di negara-negara berkembang, di mana kurang dari satu persen perempuan diperiksa akan keberadaan penyakit itu.

Sumber;

Tes Keperawanan Polwan di Indonesia Disorot Dunia

Tes Keperawanan Polwan di Indonesia Disorot Dunia Ilustrasi Polwan (Merdeka.com)
Media ternama Inggris, menulis laporan tentang tes itu, yang dikatakan sangat menyakitkan dan membuat trauma bagi kaum hawa.
Dream - Kabar calon polisi wanita (Polwan) di Indonesia diwajibkan mengikut tes keperawanan menjadi sorotan dunia.
Media ternama Inggris, Daily Mail, Selasa 18 November, menulis laporan tentang tes itu, yang dikatakan sangat menyakitkan dan membuat trauma bagi kaum hawa.
Mereka mengutip laporan hak asasi Human Rights Watch (HRW), di mana perempuan di Indonesia yang ingin menjadi polisi dipaksa mengikuti tes keperawanan.
Tahun ini peserta ujian masuk mencapai 7.000 perempuan dari seluruh provinsi. Beberapa persyaratan itu misalnya harus berusia antara 17-22 tahun, beragama, tinggi sekitar 165 sentimeter, tidak berkacamata, dan perawan.
"Selain tes medis dan fisik, wanita yang ingin menjadi polwan juga harus menjalani tes keperawanan. Sehingga semua wanita yang ingin menjadi polwan harus menjaga keperawanan mereka," demikian tertulis di situs kepolisian Republik Indonesi dan belum dihapus hingga berita ini dilansir Daily Mail.
Menurut laporan lembaga hak asasi HRW, sejumlah pelamar menceritakan saat harus menjalani tes itu.
"Aku merasa malu, gugup, tapi aku tidak bisa menolak," kata salah satu peserta yang mendaftar menjadi Polwan pada 2013 kepada HRW. "Jika saya menolak, saya tidak bisa menjadi seorang polwan."
Direktur Asosiasi Hak Asasi Perempuan HRW, Nisha Varia mengatakan Polri menggunakan tes keperawanan untuk mendiskriminasi, melakukan kekerasan, dan menghina martabat wanita.
"Yang tidak lulus tes ini langsung diusir. Tes ini juga amat menyakitkan dan membuat trauma," kata dia.
Menanggapi soal tes itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny F Sompie membantah, praktik itu masih dilakukan hingga saat ini.
Kata dia, seleksi dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk lelaki dan perempuan. Termasuk pemeriksaan organ reproduksi. "Jadi bukan tes keperjakaan atau tes keperawanan," tegasnya.
Selain Daily Mail, majalah Time dari Amerika Serikat juga mengangkat isu serupa. (Ism)
;

Thalaikoothal Ritual Sadis Membunuh Orang Tua Di India

Ritual adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis. Ritual dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Mungkin itulah uraian ritual yang kita artikan selama ini. Berbagai macam ritual dapat kita temukan di dunia ini, dari yang aneh hingga ritual mengerikan seperti yang akan kita bahas kali ini. Ya Thalaikoothal ritual membunuh orang tua yang sudah lanjut usia di India. 
Ritual Thalaikoothal
Kata lain untuk menggantikan kata 'kejam' yang ada di dunia ini terdapat di India. Barangkali anda akan bergidik mendengar bahwa di wilayah selatan Tamil Nadu, India (khususnya di Virudhunagar), terdapat tradisi membunuh atau menghilangkan nyawa orangtua yang sudah jompo.

Yang paling mengherankan, pembunuhan orangtua ini dilakukan oleh keluarganya sendiri (anak-anak dan kerabatnya). Praktek ini dilakukan dengan beberapa alasan, kebanyakan adalah karena para anak menganggap orangtua mereka yang sudah renta sebagai beban. Dan mereka menganggap hal ini bukan suatu kejahatan. Tradisi ini bernama Thalaikootal (தலைக்கூத்தல்). Secara linguistik, thalaikootal berarti 'siraman' atau 'mandi'. Disebut demikian, sebab pembunuhan dalam tradisi ini biasanya dengan proses mandi.

Bagaimana Mereka Melakukannya 
Dalam proses 'pembunuhan' ini, biasanya orang tua akan diberi sejenis minyak mandi yang banyak di pagi hari, kemudian diberi minum air tertentu (dari air kelapa) yang akan mengakibatkannya gagal ginjal, demam tinggi, hingga akhirnya orangtua tersebut meninggal dunia dalam satu atau dua hari kemudian.

Teknik lain adalah dengan melibatkan pijat khusus pada bagian kepala dengan air dingin yang dapat menurunkan suhu tubuh hingga kemudian terjadi gagal jantung. Metode alternatif lainnya adalah dengan memasukkan susu sapi ke yang cukup banyak ke lubang hidung hingga menyebabkan kesulitan bernapas (biasa juga disebut 'milk therapy' atau terapi susu). Atau cara yang lebih ekstrim adalah dengan pemberian racun!

Saat ini, thalaikoothal sudah dinyatakan sebagai praktek ilegal di India. Kendati demikian, sebagian masyarakat tetap saja melakukannya, sebab hal ini sudah menjadi budaya turun temurun dan diterima secara sosial oleh masyarakat setempat. Sahabat anehdidunia.com sedihnya lagi sangat jarang ada pengaduan ke polisi ketika terjadi praktek ini.

Ada yang mengklaim bahwa pembunuhan ini tergolong pada euthanasia sukarela (involuntary euthanasia). Dalam beberapa kasus, keluarga akan memberitahu terlebih dahulu kepada 'korban' (orangtua mereka yang akan dieksekusi) sebelum dilakukan proses pembunuhan ini. Bahkan, terkadang korban pula yang memintanya.

Namun menurut penelitian, pembunuhan atas nama kasih sayang ini sebenarnya hanyalah dalih untuk melegalkan praktik mengerikan ini, Kebanyakan keluarga menganggap bahwa orangtua yang sudah jompo adalah beban bagi keluarga di tengah himpitan ekonomi yang sulit, maka pilihan ekstrim ini pun dilakukan.

Pada tahun 2010, pernah terjadi seorang masih pria berusia 80 tahun melarikan diri ketika ia mengetahui bahwa keluarganya telah bermusyawarah untuk men-thalaikootal dirinya. Ia pun lari dan berlindung di rumah seorang kerabat. Peristiwa ini pun diekspos menjadi berita besar di Virudhunagar, sehingga petuga kepolisian membentuk tim khusus guna mengawasi dan mengamankan para warga senior yang ada di sana.

Praktek ini tidak terbatas pada kasta atau komunitas tertentu. "Masyarakat miskin melakukannya , apapun kasta mereka" kata Chandra Devi, Petugas Dinas Kesejahteraan setempat. Ia menuturkan bahwa sebagian besar penduduk di sana adalah buruh tani musiman, gembala ternak atau pekerja migran di pabrik-pabrik kecil di pusat industri di dekatn Sivakasi. Kehidupan mereka yang tidak menetap membuat mereka hampir tidak mungkin untuk tinggal di rumah untuk merawat orang tua mereka .

Dokumenter menyedihkan tentang praktek Thalaikoothal

"Membunuh memang solusi brutal untuk mengatasi beban keuangan, tetapi masyarakat mengatakan mereka tidak punya pilihan lain. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mencintai orang tua mereka" kata Chellathorai, seorang pejabat di Desa Panchayat. Sahabat anehdidunia.com walaupun bagaimana alasan dari ritual tersebut, menurut anda manusiawikah perbuatan itu? Tidakkah mereka mengingat jasa para orang tua yang sempat memeliharanya hingga dewasa?  Jadikan postingan Thalaikoothal ritual membunuh orang tua ini sebagai penambah wawasan anda saja.
;

F