info kesehatan/unik/serba serbi

Sunday, 2 September 2012

Wiji Pikir Densus 88 Itu Kawanan Perampok


Wiji Pikir Densus 88 Itu Kawanan Perampok

Wiji Siswosuwito terbaring di tempat tidur rumahnya, di Kampung Tempel, RT 04 RW 04, Kelurahan Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (1/9/2012). 

KARANGANYAR - Brakk...! pintu utama rumah Wiji Siswosuwito (64) di Kampung Tempel, RT 04/04, Kelurahan Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, didobrak orang. Wiji yang tidur terlelap, tersentak, begitu mengetahui ada orang masuk ke rumahnya sambil mengacungkan senjata.
Kejadian itu berlangsung Jumat (31/8/2012) tengah malam. Wiji yang ada di dalam kamar dengan pintu terbuka, langsung dibekap.
Awalnya, tangan Wiji sempat berusaha berontak dan menepis senjata yang diarahkan kepadanya. Namun, usaha itu sia-sia. Umur yang renta tak mampu melawan sekelompok orang yang semula dianggap Wiji adalah kawanan rampok yang ingin menggasak harta bendanya.
Malam itu dia tak tahu, sekelompok orang yang sempat mengikat tangannya menggunakan lakban, ternyata anggota Densus 88, yang sedang mencari keberadaan menantunya, Bayu Setyono (22), suami dari putrinya, Retno Setyorini (29).
Akibat aksi itu, Wiji mengalami beberapa luka di bagian wajah, dan harus dibawa ke rumah sakit.
Setelah melumpuhkan Wiji, Densus 88 kemudian mendobrak pintu kamar BS dan istrinya. Pintu tersebut sekarang dalam kondisi berlubang akibat didobrak.
Bayu ditangkap dengan diborgol menggunakan lakban. Dia dibawa keluar, sambil para petugas membawa sebuah tas hitam di dalam kamar.
Wiji yang masih diikat kemudian ditolong, dia dibawa ke Puskesmas Gondangrejo dan mendapatkan jahitan di lukanya. Setelah pulang, dia mengeluhkan pusing kepala, lalu dibawa ke Dr Oen Solo.
Dari hasil pemeriksaan, pusing diakibatkan karena benturan, saat bergumul dengan anggota Densus 88. Untungnya, hasil scan menyatakan kepala Wiji normal dan dinyatakan boleh rawat jalan. Cerita itu adalah keterangan dari Subagyo (48), adik bungsu Wiji kepada Tribun.
Di tengah keluarga, Bayu dikenal pendiam. Meskipun setiap hari rajin pulang ke rumah mertuanya, waktu pulangnya tak menentu dan selalu malam.
Pekerjaan Bayu adalah menjual produk minuman tradisional ke warung-warung, setelah berhenti bekerja di sebuah perusahaan makanan sebelum Lebaran lalu.
“Dia orangnya pendiam. Kalau ketemu dengan warga lain juga menyapa. Rajin salat dan cukup sering datang di pertemuan bapak-bapak RT sini. Katanya dia bekerja mengedarkan minuman wedang uwuh ke warung hik,” kata anak Subagyo, Wahyu Sasongko.
Di lingkungan kampung tersebut, warga Bayu sebagai sosok yang jarang bertandang ke rumah sanak saudara istrinya dan tetangga.

Sumber