info kesehatan/unik/serba serbi

Saturday, 22 November 2014

Tes Keperawanan Polwan di Indonesia Disorot Dunia

Tes Keperawanan Polwan di Indonesia Disorot Dunia Ilustrasi Polwan (Merdeka.com)
Media ternama Inggris, menulis laporan tentang tes itu, yang dikatakan sangat menyakitkan dan membuat trauma bagi kaum hawa.
Dream - Kabar calon polisi wanita (Polwan) di Indonesia diwajibkan mengikut tes keperawanan menjadi sorotan dunia.
Media ternama Inggris, Daily Mail, Selasa 18 November, menulis laporan tentang tes itu, yang dikatakan sangat menyakitkan dan membuat trauma bagi kaum hawa.
Mereka mengutip laporan hak asasi Human Rights Watch (HRW), di mana perempuan di Indonesia yang ingin menjadi polisi dipaksa mengikuti tes keperawanan.
Tahun ini peserta ujian masuk mencapai 7.000 perempuan dari seluruh provinsi. Beberapa persyaratan itu misalnya harus berusia antara 17-22 tahun, beragama, tinggi sekitar 165 sentimeter, tidak berkacamata, dan perawan.
"Selain tes medis dan fisik, wanita yang ingin menjadi polwan juga harus menjalani tes keperawanan. Sehingga semua wanita yang ingin menjadi polwan harus menjaga keperawanan mereka," demikian tertulis di situs kepolisian Republik Indonesi dan belum dihapus hingga berita ini dilansir Daily Mail.
Menurut laporan lembaga hak asasi HRW, sejumlah pelamar menceritakan saat harus menjalani tes itu.
"Aku merasa malu, gugup, tapi aku tidak bisa menolak," kata salah satu peserta yang mendaftar menjadi Polwan pada 2013 kepada HRW. "Jika saya menolak, saya tidak bisa menjadi seorang polwan."
Direktur Asosiasi Hak Asasi Perempuan HRW, Nisha Varia mengatakan Polri menggunakan tes keperawanan untuk mendiskriminasi, melakukan kekerasan, dan menghina martabat wanita.
"Yang tidak lulus tes ini langsung diusir. Tes ini juga amat menyakitkan dan membuat trauma," kata dia.
Menanggapi soal tes itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny F Sompie membantah, praktik itu masih dilakukan hingga saat ini.
Kata dia, seleksi dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk lelaki dan perempuan. Termasuk pemeriksaan organ reproduksi. "Jadi bukan tes keperjakaan atau tes keperawanan," tegasnya.
Selain Daily Mail, majalah Time dari Amerika Serikat juga mengangkat isu serupa. (Ism)